Kartonyono (Medot Janji)

Kartonyono (Medot Janji)

Minggu lalu saya ke Solo! Ini adalah perjalanan pertama saya dan Debin di 2024. Sebuah perjalanan singkat dan kali ini tidak membawa mobil sendiri melaikan mencoba angkutan umum dengan dua kelas berbeda.

Keberangkatan

Hari Rabu, begitu jam kantor selesai, saya langsung buru-buru pulang. Sayangnya, walau saya berhasil meninggalkan kantor lebih awal tapi perjalanan pulang agak tersendat. Maklumlah, besok adalah awal dari libur akhir pekan yang agak panjang. Dua tanggal merah berdekatan dengan libur cuti bersama di tengahnya. Jelas saja semua orang memadati jalanan di hari terakhir sebelum libur itu.

Dengan semua ketersendatan (baca: kemacetan total) baik waktu pulang ke apartemen maupun saat berangkat ke pul bus, saya tetap merasa beruntung bisa sampai tepat waktu walaupun akhirnya bus kami berangkat 2 jam lebih lambat dari jadwal karena kemacetan yang membuat bus tidak sampai di pul tepat waktu.

Kemacetan masih berlanjut saat bus mulai bergerak meninggalkan Jakarta. Al hasil, perjalanan terasa begitu panjang apalagi bus yang kami tumpangi adalah bus ala bus pariwisata jarak pendek untuk anak-anak SD! Ya, jadi bus ini menurut saya sangat tidak layak untuk perjalanan antar kota yang jauh. Posisi duduk yang tegak, jarak antar kursi yang rapat, semua tidak mendukung perjalanan yang nyaman.

Hari Pertama

Sampai di Solo jam 9 pagi, dalam keadaan lelah dan pegal-pegal, kamipun menitipkan barang bawaan di hotel dan (terpaksa karena belum bisa check-in) lanjut bertualang di sekitar kota Solo dengan berjalan kaki.

Jalan-jalan kami di hari pertama memang tidak jauh. Kami hanya mengunjungi kawasan Kampung Batik Kauman di mana saya memang perlu menimba informasi tentang kelas membatik di sana, lalu makan siang yang super Solo di Tengkleng bu Edi, daerah pasar Klewer, dan lanjut ke pasar barang antik Triwindu, lalu berakhir dengan kepanasan dan kelelahan di Mc Donald’s.

Tengkleng Solo yang full kolesterol!

Jam 14-an kami sudah sampai kembali di hotel, langsung masuk kamar, bersih-bersih, dan istirahat. Solo sore itu memang diperkirakan akan hujan dan benar saja, sekitar jam 16 hujan deras mengguyur kota Solo sehingga istirahat di kamar hotel adalah hal terbaik yang bisa kami lakukan.

Malamnya, saat hujan sudah reda dan perut sudah mulai keroncongan, kami berjalan kaki ke arah Pasar Gede. Mampir makan malam di nasi liwet legendaris Bu Sarmi di daerah Loji Wetan, yang ramai dan cepat habis, lalu kembali berjalan ke Pasar Gede untuk membeli dim sum yang konon viral. Benar saja, apapun yang viral sepertinya memang perlu dihindari sampai keviralannya selesai, karena demi beberapa butir dim sum rasa dim sum beku, saya harus antre lebih dari 20 menit!

Awalnya kami ingin mencobai beberapa makanan lain yang ramai dijajakan di sepanjang jalan Pasar Gede tapi karena suasana yang ramai dan kondisi kami yang lelah, akhirnya kami menyerah dan memilih pulang ke hotel untuk beristirahat karena besok kami punya jadwal yang cukup padat.

Hari Kedua

Kami memulai hari kedua dengan berangkat pagi-pagi dari hotel menuju kota Sragen di mana di sana kami menemui pasar tradisional yang sangat berwarna dan menarik untuk ditelusuri. Bukan hanya karena hiruk-pikuknya, tapi juga karena beraneka makanan khas yang jarang saya jumpai di Jakarta. Salah satunya adalah tempe yang bukan dibungkus dengan daun pisang melainkan daun pohon jati. Kalau dipikir-pikir, rasanya membungkus makanan dengan daun jati seperti yang sering dilakukan orang Jawa pada zaman dulu adalah hal yang lebih ramah lingkungan daripada dibungkus dengan daun pisang (yang jumlahnya lebih terbatas), apalagi plastik.

Pasar Bunder, Sragen – Jawa Tengah.

Selain pasar tradisional, saya juga sempat berjalanan kaki mengelilingi pusat kota Sragen. Bagi saya, kota ini adalah kota yang sangat bersih dan rapi. Mungkin karena saya hanya berada di tengah kotanya sih, tapi setidaknya itu kesan saya tentang kota mungil ini.

Perjalanan kami lanjutkan ke arah kota Ngawi dengan makan siang di sebuah rumah makan di daerah Karangayu yang rupanya luar biasa enak dan murah meriah! Jangan-jangan tempat makan ini adalah highlight perjalanan hari ini karena memang tempat makan ini sangat random dan tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Kami lalu berhenti di daerah Mantingan. Di sini ada Monumen Soerjo yang rupanya adalah monumen peringatan bagi korban pertentangan politik di masa lalu. Di seberang monumen ini ada pula sebuah wana wisata yang sayangnya terbengkalai dan sangat tidak nyaman untuk dimasuki. Tiket untuk masuk ke monumen Soerjo dan wana wisata ini seharga Rp10.000 per orang.

Wisata Monumen Soerjo, Ngawi – Jawa Timur,

Dari sini kami melanjutkan perjalanan ke kota utama dan satu-satunya yang ingin saya datangi dalam perjalanan kali ini. Inilah kota Kartonyono yang tugunya begitu tenar dalam lagu “Kartonyono Medot Janji” yang dipopulerkan oleh Denny Caknan. Saat akhirnya saya menginjakkan kaki di kota ini, ada rasa haru (agak lebay ya) karena memang saya tidak pernah menyangka akan berada di kota ini. Bahkan kalau tak menonton video klip lagu itu, saya tidak tahu kalau kota ini ada.

Berkeliling sebentar, mengambil foto banyak-banyak di Kartonyono, kami lalu berjalan kembali ke arah Solo. Memang agak aneh sih rute perjalanan kami karena saya dan Debin punya keinginan masing-masing.

Tugu Kartonyono, Ngawi – Jawa Timur.

Serasa melintangi peta, pemberhentian kami berikutnya adalah di Waduk Gajah Mungkur. Waduk ini pernah saya dengar samar-samar semasa kecil dan rupanya setelah dewasa saya jadi tahu bahwa untuk membangun waduk ini, 41 ribu lebih warga dari 45 desa dan 6 kecamatan di Wonogiri harus dipindah. Sebagian besar dari mereka ikut (kalau tidak mau disebut dipaksa) program transmigrasi ke pulau Sumatera. Inilah yang membuat ada monumen Bedol Desa di waduk ini.

Sayangnya sore itu tak banyak yang bisa kami lihat di kawasan waduk yang super besar ini. Hawa panas dan terikpun membuat kami memutuskan untuk kembali ke kota Solo.

Malamnya kami kembali mengunjungi Pasar Gede. Kali ini dengan energi yang cukup untuk keliling dan melihat-lihat secara lebih detail apa saja yang ada di sana.

Rupanya malam ini Pasar Gede jauh lebih ramai daripada malam sebelumnya. Mungkin karena malam ini seharian Solo cerah dan orang jadi berbondong-bondong hendak menghabiskan malam libur di Pasar Gede yang dihiasi lampu warna-warni serta hiasa lampion khas Imlek.

Perjalanan Pulang

Hari ketiga rupanya bukanlah hari yang baik bagi kami. Selain jadwal keberangkatan bus yang mendadak dimajukan, hari ini rupanya adalah hari penutup kampanye sekaligus kampanye akbar bagi salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden dan lokasinya sangat dekat dari hotel kami. Jadi ya kami terjebak dalam kemacetan karena banyak jalan yang ditutup.

Untung saja Debin yang sejak subuh sudah pergi untuk mengambil gambar di kota lain bisa pulang tepat waktu untuk mandi dan bersiap check-out dari hotel.

Cerita berikutnya adalah tentang kesengsaraan kami untuk keluar dari kota Solo dan menunggu bus yang juga konon terjebak macet. Kami menunggu 2 jam lebih dan kalau kami tidak ramai-ramai protes mungkin kami akan terjebak lebih lama lagi di sana. Untung kami kemudian dinaikkan ke bus ulang-alik yang mengantarkan kami ke tempat bus berada. Dari sana, perjalanan mulai terasa lebih baik karena ini adalah pengalaman pertama kami naik bus sleeper yang memang sudah berbulan-bulan sering saya tonton ulasannya dan ingin sekali saya cobai.

Suasana kabin bus sleeper yang kami tumpangi.

Bus yang kami tumpangi, milik Semeru Trans, berjuluk Suite Class. Bus ini tak lain adalah bus dengan kursi yang sangat nyaman karena berkabin luas dan berkursi rebahan. Perjalanan Solo-Jakarta dengan berhenti makan malam di Semarang terasa sangat cepat dan nyaman serta menjadi penutup yang indah dalam perjalanan kami kali ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *