Mudik

Salah satu kenangan terindah yang tidak akan pernah saya lupakan semasa kecil adalah mudik. Kala itu, tiap akhir Ramadan menjelang, kami sekeluarga mulai sibuk menyiapkan perjalanan pulang kampung alias mudik.

Bapak biasanya jauh-jauh hari mulai mengumpulkan (baca: menggunting peta perjalanan mudik dari koran-koran) untuk mencari jalur-jalur alternatif dan menyiapkan teknis perjalanan. Mulai dari membagi-bagi mobil (ya, kala itu kami punya beberapa mobil yang dipinjamkan ke beberapa saudara yang tidak punya kendaraan). Kegiatan ini tentu membutuhkan strategi karena zaman itu telekomunikasi tidak semudah dan secepat sekarang. Dia harus menghubungi saudara-saudara yang mau meminjam mobil dan menentukan kapan mereka bisa mengambil mobilnya. Kemudian bapak juga harus berkoordinasi dengan saudara-saudaranya untuk menentukan siapa yang akan membantunya menyupir sepanjang perjalanan mudik. Selain itu, di belakang layar, saudara-saudara bapak yang lain mengatur penginapan untuk seluruh keluarga dan ini tentu membutuhkan persiapan jauh-jauh hari sebelumnya.

Ibu juga tidak kalah sibuk. Dia banyak mengurusi hal-hal yang bersifat logistik. Jauh-jauh hari biasanya ibu mulai membeli aneka makanan yang akan jadi bekal selama perjalanan. Maklum, perjalanan mudik tidak pernah bisa ditebak. Kadang lancar, kadang macet. Ketika macet, perjalanan mudik bisa begitu menyiksa karena dalam perjalanan banyak toko dan restoran yang tutup untuk berlebaran juga.

Ketika hari H datang, pagi-pagi setelah sahur di hari terakhir Ramadan, kamipun memulai perjalanan. Biasanya ada sepupu saya yang sudah menginap beberapa hari di rumah untuk membantu bapak menyupir. Perjalanan begitu menyenangkan (setidaknya buat saya yang waktu itu masih terlalu kecil untuk bersibuk).

Sepanjang jalan Ibu banyak bercerita tentang kota-kota yang kami lalui. Setiap sampai di batas kota, kami sama-sama menyebutkan nama kotanya dan menebak apa nama kota berikutnya. Selain itu selama perjalanan juga akan ada cerita-cerita masa kecil bapak dan ibu. Juga cerita tentang kota-kota yang kami lalui beserta makanan khasnya. Karena biasanya dalam perjalanan ini kami sekeluarga masih berpuasa. Jadi ya, ketika kami berhenti di sebuah kota untuk membeli makanan khas, kami harus menahan diri untuk tidak memakannya sampai waktu berbuka puasa tiba.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, perjalanan mudik tidak mudah ditebak. Saat lancar maka seluruh rencana perjalanan berjalan sesuai rencana. Tapi ketika kami terjebak dalam kemacetan maka bapak sebagai “navigator” langsung sibuk membuka-buka petanya dan mengarahkan perjalanan melewati jalur-jalur alternatif. Dan yang disebut jalur alternatif biasanya adalah jalur-jalur yang di saat normal, tidak ada orang yang melalui jalur itu. Entah karena jalanannya jelek, sepi, sulit, berputar, atau…aneh. Suatu kali, kami pernah harus turun dari mobil karena jalan yang kami lalui tiba-tiba seperti terputus. Jadi, jalan itu tiba-tiba harus melalui sebuah kali kecil tanpa jembatan sama sekali. Ini menambah koleksi pengalaman unik dalam perjalanan mudik.

Ketika Maghrib tiba, biasanya kami sudah memasuki kota tujuan. Suara azan yang dilanjutkan dengan kumandang takbir mengiringi mobil kami memasuki lahan parkir hotel tempat kami menginap. Biasanya kami langsung disambut oleh saudara-saudara bapak yang sudah sampai duluan atau yang memang tinggal lebih dekat dari kota tujuan kami ini. Sayapun langsung berkumpul dengan sepupu-sepupu yang hanya saya temui satu tahun sekali itu.

Kehangatan sangat terasa saat buka puasa terakhir yang dilanjutkan dengan makan malam tiba. Biasanya di saat ini seluruh keluarga besar sudah hadir dan berkumpul untuk menikmati hidangan “pot luck”. Bayangkan, keluarga yang kebanyakan hanya bertemu setahun sekali ini menumpahkan segala rasa rindu sambil menceritakan perjalanan dan kehidupan masing-masing.

Setelah makan malam, biasanya saya dan sepupu-sepupu berjalan-jalan keliling area hotel. Ya, kami tinggal di sebuah kompleks penginapan yang besar. Lahannya luas dan tidak jauh dari tempat keramaian di desa itu. Jadi, jalan-jalan berkeliling sangatlah menarik.

Keesokan harinya, saat Idulfitri tiba, pagi-pagi sekali kami semua bangun dan bersiap untuk salat id. Alangkah indahnya hari-hari itu ketika kami semua dengan wajah segar, baju rapi, berjalan beramai-ramai menuju lokasi salat id yang biasanya diadakan di lapangan dekat pasar utama desanya bapak. Tidak ketinggalan setelah salat id, kami makan pagi dengan lauk istimewa khas lebaran dan dilanjutkan dengan saling bermaaf-maafan.

Acara berikutnya adalah nyekar makam eyang. Acara ini lebih seru karena letak makam eyang agak-agak di pucuk gunung yang rata-rata penduduknya adalah saudara jauh bapak. Jadi, sepanjang jalan, ada saja yang menyapa rombongan kami. Acara nyekar ini juga seru karena diakhiri dengan berkumpul di rumah milik keluarga besar, di mana keluarga jauhpun berkumpul di sana, dan lagi-lagi, makan-makan!

Menjelang sore hari, kami kembali ke penginapan. Biasanya lalu dilanjutkan dengan acara bebas. Terkadang kami berjalan-jalan ke kota terdekat untuk melihat-lihat dan membeli oleh-oleh khas.

Keesokan harinya, H+2, kami sekeluarga bertolak menuju Semarang. Kali ini mengunjungi keluarga besar ibu yang sama seperti keluarga bapak, juga menyewa hotel untuk menginap beramai-ramai. Tentu saja saya merasa sangat beruntung karena bisa merasakan lebaran 2 kali. Selain itu, kota Semarang juga kota yang jauh lebih besar, jadi lebih banyak yang bisa dilihat dan dirasakan di ibukota Jawa Tengah itu.

Biasanya, setelah check-in dan bertemu saudara-saudara dari ibu, acara bebaspun kami manfaatkan untuk berkeliling kota Semarang. Menikmati kuliner dan berkunjung ke rumah saudara-saudara jauh dari bapak-ibu yang tidak ikut berlebaran bersama.

Acara bersama keluarga besar ibu tidak kalah seru! Selain nyekar makam eyang di Semarang, kami juga terkadang berombongan pergi ke kota lain untuk mengunjungi rumah tua keluarga besar. Di sana kami bisa melihat asal-usul keluarga kami. Dari rumah sederhana di daerah yang terbilang tandus itulah, keluarga besar kami bermula. Mungkin inilah salah satu hikmah dari mudik. Kembali mengingat akar keluarga. Berterima kasih pada para leluhur yang telah mengantarkan keluarga kami hingga tiba di titik ini.

Ketika rangkaian acara mudik berakhir, terasa ada yang hilang dari hati saya. Namun seperti perangko yang ditarik dari amplopnya, ada bekas-bekas yang terus menempel kuat di hati saya. Bekas-bekas itu adalah kehangatan dan cerita indah saat berkumpul bersama keluarga besar, sejenak melepas penat dari rutinitas kehidupan, menikmati liburan di kota kecil, dan akhirnya ini semua menjadi kenangan yang indah, yang tidak akan pernah saya lupakan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *